Home » » IBNU MISKAWAIH DAN FILSAFATNYA

IBNU MISKAWAIH DAN FILSAFATNYA

Written By Al Huda Wat Tuqo on Thursday, March 21, 2013 | 8:59 PM



IBNU MISKAWAIH DAN FILSAFATNYA
  1.   Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Akal  merupakan salah satu anugrah Allah SWT. Yang paling istimewa bagi manusia. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan di bawa sejak lahir karena  manusia ketika dilahirkan belum mengetahui apa-apa. Dua sumber pengetahuan  yang di peroleh  manusia, yaitu pengetahuan yang di peroleh melalui wahyu dan pengetahuan yang di peroleh melalui panca indra.
Demikian halnya Ibnu Miskawaih seorang anak manusia yang tumbuh berkembang seperti manusia lainnya, mencari kebenaran baik melalui penelitian, pelatihan untuk mendapatkan berbagai pengalaman dan dari pengalaman ia berinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Sehingga dalam berbagai literaturnya ia juga menulis tentang kajian kedokteran, Sejarah, Bahasa dll. Sehingga Ibnu Miskawaih tumbuh menjadi seorang filosop Muslim yang termaktub dalam sejarah pemikiran islam. Ia memiliki tempat dalam sejarah pemikiran.
Ibnu Miskawaih hidup di tengah tengah situasi masyarakat yang memperhatinkan, Kehidupan lingkungannya yang di warnai praktek-praktek amoral seperti perzinahan, perjudian, perkosaan, penganiayaan dll. Keadaan ini menjadi alasan Ibnu Miskawaih untuk lebih berkonstrasi mengkaji ilmu yang menyangkut etika atau moral manusia karena dengan moral yang baik akan tercipta suasana masyarakat yang damai dan bersahaja.

2.      Biografi Ibnu Miskawaih
Nama lengkap Ibnu  Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu yakkub ibnu miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, iran pada tahun 330 H/ 941M dan wafat di asfahan pada tanggal 9 shafar 421 H / 16 februari 1030M. Sejarah hidup tokoh ini tidak banyak di ketahui banyak orang, para penulis dalam berbagai literature tidak mengungkapkan biografinya secara rinci[1].
Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu di jelaskan bahwa ibnu miskawaih  belajar sejarah terutama Tharikh Al-Tabhari kepada Abu Bakar Ibnu Kamil Al- Qadhi dan belajar filsafat pada ibnu al-khammar, mufasir kenamaan Karya-karya Aristoteles. Ada diantara penulis yang mengatakan bahwa ibnu miskawaih sebelum masuk islam  beragama majusi. Kredibilitas statemen ini perlu diragukan, karena dilihat dari namanya, Muhammad, menunjukkan nama orang muslim. Agaknya benar yang di kemukakan Abdurrahman Badawi bahwa statemen ini lebih tepat ditujukan kepada bapaknya. Ibnu Miskawaih seorang penganut syiah. Indikasi ini didasarkan pada pengabdiaannya kepada Sulthan dan Wazir-Wazir syiah dalam masa pemerintahan Bani Buwaih (320-448H). Ketika  Sultan Ahmad ‘Adhud Daulah memegang tumpuk pemerintahan, ia menduduki jabatan yang penting, seperi diangkat menjadi Khazin, Penjaga perpustakaan yang besar dan bendahara negara.
3.      Pemikiran Ibnu Miskawaih
a.    Tentang Ketuhanan
Tuhan, menurut miskawaih adalah zat yang tidak berjism, Azali, dan pencipta.Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan adaNya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkanNya. Tampaknya pemikiran Ibnu MIskawaih sama denagan pemikiran al-Farabi dan Al-Kindi. Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negative dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, prograsi positif. Alasannya prograsi posotif akan menyamakan Tuhan dengan alam.Segala sesuatu di alam ini ada gerakan.
Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula. Bukti tentang adanya Tuhan pencipta alam. Pendapat ini berdasarkan pada pemikiran aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula. Sebagai filosofis  releguis sejati. Ibnu Miskawaih mengatakan, alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada, karena penciptaan yang sudah ada bahan sebelumnya tidak ada artinya. Disinilah letak persamaan pemikirannya dengan Al-Kindi dan berbeda dengan Al-Farabi bahwa Allah menciptakan alam dari sesuatu yuang sudah ada.
b.      Tentang Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu MIskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun Emanasinya berbeda dengan Al-Farabi. Menurut entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif. Akal aktif ini tanpa perantara apapun. Ia kadim, Sempurna  dan Tak berubah. Dari akal inilah  timbul jiwa dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus menerus dari Allah  dapat memelihara tatanan di dalam alam ini. Andaikan Allah menahan Pancaran-Nya, maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan perbedaan Emanasi Antara Ibnu  Miskawah dan Al-Farabi sebagai berikut.
1.      Bagi Ibnu Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara Emanasi dari tidak menjadi ada. Sementara itu menurut Al-Farabi alam dijadikan tuhan secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
2.      Bagi Ibnu Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif. Sementara itu, bagi Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.
Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa dalam masalah pokok Ibnu Miskawaih sejalan dengan pemikiran Guru Kedua, Al-Farabi akan tetapi, Dalam penyelesaian  masalah ini lebih cenderung kepada Al-Kindi dan Teolog Muslim.
Sebagaimana Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Miskawaih juga mengemukakan  teori Evolusi, menurutnya alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan dan alam manusia merupakan rentetan yang sambung mernyambung. Antara setiap alam tersebut terdapat  jarak waktu yang sangat panjang. Transisi dari alam mineral ke alam tumbuh-tumbuhan terjadi melalui merjan dari alam tumbuh tumbuhan ke alam hewan melalui pohon kurma dan dari alam hewan ke alam manusia melalui kera.
c.       Tentang Jiwa
Jiwa, menurut Ibnu Miskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad. Ia adalah satu kesatuan  yang tidak dapat terbagi-bagi. Ia akan hidup selalu ia tidak dapat diraba dengan panca Indra karena ia bukan jisim dan bagian dari jisim. Jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan mengetahui keaktivitasnya[2].
Argumen yang di majukan adakah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan. Jadi Ibnu Miskawaih mensinyalkan bahwa jiwa tidak dapat di bagi-bagi itu tidak mempunyai unsur, sedangkan unsur-unsur hanya terdapat pada materi. Namun demikian, jiwa dapat menyerap materi yang kompleks dan non materi yang sederhana.
Dalam kesempatan lain, Ibnu Miskawaih juga membedakan antara pengetahuan jiwa dan pengetahuan panca indra. Secara tegas menyatakan bahwa panca indra tidak dapat menangkap selain apa yang dapat diraba atau di indra. Sementara jiwa dapat menangkap apa yang dapat ditangkap panca indra, yakni dapat diraba  dan juga tidak dapat di raba. Tentang balasan Akhirat, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima  balasan di akhirat. Karena, menurutnya, kelezatan jasmaniyyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.
d.      Tentang Akhlak
Ibnu Miskawaih seorang moralis yang terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam islam, filsafat ini selalu dapat perhatian utama, keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran islam dan di kombinasiakan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat yunani dan Persia. Yang di maksud sumber pelengkap adalah sumber lain baru diambil jika sejalan dengan ajaran islam dan sebaliknya ia tolak, jika tidak demikian[3].
Akhak menurut konsep Ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.
Berdasarkan ide diatas, secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang orang yunani yang mengatakan  bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah.Babi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan dan latihan latihan.pemikiran seperti ini sejalan dengan pemikiran dan ajaran islam karena  secara  eksplisit telah mengisyaratkan ke arah ini  dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia. Karena kebenaran ini tidak dapat di bantah sedangkan sifat binatang saja bisa berubah jadi liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Ibnu Miskawaih juga menjelaskan sifat-sifat yang utama, sifat-sifat ini, menurutnya, erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya : daya marah, daya berfikir, dan daya keinginan. Sifat Hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berfikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang timbul dari jiwa hilm, sementara Murah adalah sifat utama pada jiwa keinginan lahir dari iffah. dengan demikian  ada tiga sifat utama yaitu hikmah, berani dan marah. Apabila  ketiga sifat utama ini serasi, muncul sifat utama yang keempat, yakni adil.
Dalam kitab Al-akhlak Ibnu Miskawaih juga memaparkan kebahagian, menurutnya meliputi jasmani dan rohani. Pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat plato dan Aristoteles. Menurut plato kebahagian yang sebenarnya adalah kebahagian rohani. Hal ini dapat diperoleh manusia apabila rohaniyah telah berpisah dengan jasadnya. Dengan redaksi lain selama rohaniyah masih  terikat pada jasadnya, yang selalu menghalanginya cara hikmah, kebahagiaan dimaksud tidak akan tercapai. Sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagian dapat di capai dalam kehidupan di dunia ini, namun kebahagian tersebut berbeda di antara manusia, seperti orang miskin kebahagiaanya  adalah kekayaan, yang sakit pada kesehatan dan lainnya.
Urain di atas dapat dijadikan bukti-bukti bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran islam. Sementara gabungan pendapat plato Aristoteles merupakan  pemikiran pelengkap yang ia terima karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
e.       Tentang Kenabian
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga Menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah. Usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan pilosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu. Menurut Ibnu Miskawaih, nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat hakikat kebenaran  seperti ini juga  diperoleh oleh para pilosof. Perbedaannya hanya terletak pada tehnik memperolehnya[4].
Filosof mendapatkan kebenaran tersebut dari bawah keatas  dari daya indrawi menaik kedaya khayal dan menaik lagi kedaya Fikir yang dapat berhubungan dan menangkap kebenaran  dari akal aktif. Sementara itu  Nabi mendapatkan kebenaran  diturunkan dari atas kebawah, yakni dari akal aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah.
Penjelasan diatas dapat dijadikan petunjuk bahwa Ibnu Miskawaih berusaha merekonsiliasi antara agama dan filsafat dan keduanya mesti cocok dan serasi, karna sumber keduanya sama. Justru itulah filosof adalah orang yang paling cepat menerima  dan mempercayai apa yang di bawa oleh nabi karena nabi membawa ajaran yang tidak bertolak pada akal fikiran manusia.Namun demikian, tidak berarti manusia tidak membutuhkan nabi karena dengan perantaraan nabi  dan wahyulah manusia dapat mengetahui hal hal yang bermanfaat. Yang dapat menbawa manusia kepada kebahagian. Ajaran ini tidak dapat dipelajari oleh manusia  kecuali para pilosof, dengan kata lain  sangat sedikit kuantitas manusia  yang dapat mencapainya. Hal ini karena filsafat tidak dapat di jangkau oleh semua lapisan masyarakat.
4.     Karya Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih tidak hanya dikenal sebagai seorang Pemikir, tetapi ia juga seorang penulis yang Produktif. Dalam buku The Histiry of the  Muslim Philosophy,  di sebutkan beberapa karya tulisnya. yaitu:
    1. Al-Fauz Al-Akbar Wal Asghar
    2. Tajarib Alumam
    3. Tahzib Al-Akhlaq
    4. Thaharah An-Nafs
5.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka di simpulkan  beberapa poin penting sebagai berikut :
  1. Pemikiran  Filsafat Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran Islam, Sementara gabungan pendapat plato dan aristoteles merupakan pemikiran pelengkap yang ia terima selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
  2. Ibnu Miskawaih diberi julukan  sebagai Bapak Filsof Akhlak sebab Objek kajiaannya lebih menitik beratkan pada masalah Moralitas.
  3. Ibnu Miskawaih  mengatakan bahwa kebahagian manusia meliputi kebahagian jasmani dan rohani.
Daftar Pustaka
Ø  Daud, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Ø  Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Ø  Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Ø  Hasyim Nasution. Filsafat Islam, Jakarta: Radar Jaya Jakarta, 2002.
Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum, Bandung: VC Pustaka Setia, 2008.



[1] Daud, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

[2] Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
[3] Hasyim Nasution. Filsafat Islam, Jakarta: Radar Jaya Jakarta, 2002.
[4] Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

By Ponpes Al Huda Wat Tuqo. Powered by Blogger.


 
Support : http://www.cecep-suherman.blogspot.com Copyright © 2013. Ponpes Al- Huda Wat Tuqo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by Santri Al Huda Wat Tuqo